
Pembelajaran Tatap Muka (PTM) bersesi telah dimulai di MTsN 1 Kota Palangka Raya sejak hari Senin, 10 Januari 2022. PTM bersesi ini ditetapkan untuk memberikan kesempatan yang sama kepada siswa untuk belajar bertatap muka langsung dengan guru setiap harinya, juga belajar untuk mengembangkan karakter, seperti disiplin, tanggung jawab, mandiri, untuk berinteraksi dengan orang lain. Setiap minggu ada pergantian sif, di mana minggu ganjil mengharuskan siswa bernomor ganjil untuk datang ke madrasah pada sesi pagi, dan siswa yang bernomor genap pada sesi sore. Durasi belajar memang masih sangat pendek, yaitu separuh dari ketentuan pembelajaran normal.
Pembelajaran daring yang dilaksanakan selama pandemi menemui banyak kekurangan. Bagi siswa yang aktif dan mandiri mereka tak banyak menemui kesulitan. Namun, bagi yang kurang terbiasa mencari informasi sendiri maka kesulitan terbesar adalah disiplin diri. Hambatan ini banyak dikeluhkan oleh guru, siswa hingga orang tua karena siswa lebih banyak berinteraksi dengan gawai daripada dengan orang tua, teman bahkan guru, meski melalui media Whatsapp. Instruksi kegiatan belajar banyak diabaikan.

Dengan pemberlakuan pembelajaran tatap muka semi normal ini. guru merasakan kembali suasana seperti sediakala sebelum pandemi. Bel masuk dan pergantian pelajaran sudah berbunyi kembali. “Mendengar bel begini rasanya aku menjadi guru seutuhnya.” ungkap Kurniasih sambil tersenyum bahagia. Saat daring, memang guru-guru tetap berada di madrasah. Beberapa ada yang mengajar di kelas, di ruang guru, di laboratorium, atau ruangan lain yang nyaman ketika bersemuka dengan siswa melalui ruang zoom atau google meet. Akan tetapi, kehadiran siswa jarang yang ajeg mencapai seratus persen. “Meski kita mengajar dua sesi dan waktunya terbatas, menjelaskan secara langsung kepada siswa itu lebih mudah. Kita juga jelas mengetahui karakter mereka dari sikap dan kebiasaan,” tutur Radiah pengampu Fiqih.
“Alhamdulillah, madrasah tak sepi lagi. Ada kebahagiaan tersendiri berkumpul dan berinteraksi dengan siswa. Selain itu pembelajaran yang terjadi lebih bermakna. Dengan bertemunya siswa dengan teman-teman, mereka memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan potensi dan daya kreasi.” tukas Rita Sukaesih yang berkeliling sambil melihat kegiatan siswa merangkai gelas plastik untuk membuat lampion. Menurut penuturannya, madrasah akan kembali berseri, tidak hanya karena lampion hasil karya mereka, tetapi madrasah kembali memiliki nyawa.


















